Pedusi dan Pekerjaan ‘Domestik’ Rumah Nikah Menurut Syariat

Promo menarik pada undian Data HK 2020 – 2021.

Dalam kehidupan rumah tangga, suami dan istri memiliki kedudukan dan kewajibannya masing-masing. Bahkan, syariat Islam sudah mengatur sedemikian rupa tugas dan kewajiban seorang suami maupun istri. Tentang peran istri dalam rumah tangga, Allah Subhanahuwa ta’ala memerintahkan para suami untuk memperlakukannya dengan cara ma’ruf.

Sesuai disebutkan dalam firman-Nya:

وعَاشِرُوْهُنَّ بِالمَعْرُوْف

“Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) secara cara yang ma’ruf” (QS Peduli Nisaa’: 19)

Baca Selalu:

Dan firman-Nya

وَلَهٌنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْف

“Dan hak mereka semisal kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf” (QS Al Baqarah: 228)

(Baca juga: Larangan Keras Bagi Seorang Muslim Menerima Perkataan yang Mempertandingkan Domba )

Dan yang dimaksud dengan ‘urf dalam ayat-ayat ini, adalah segalanya yang dikenal dan berlaku di kebiasaan masyarakat muslimin dan tidak bertentangan dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Tetapi yang seringkali menjadi pertanyaan terutama dari kalangan aktivis perempuan, apakah benar bahwasanya pekerjaan rumah serupa memasak dan mencuci dan selainnya adalah kewajiban seorang istri pada rumah? Apakah istri berdosa kalau dia tidak menaati suaminya jika ia menolak mengerjakan pekerjaan vila tangganya?

Dalam sebanyak tulisan banyak disebutkan bahwa urusan seorang istri adalah sekedar istimta’, yaitu memberikan pemenuhan kebutuhan biologis kepada suami. Lainnya tidak. Peristiwa itu memang masyhur dalam sebesar kitab lintas Mazhab Fikih.

(Baca juga: Muslim Harus Memilih Jalan Hidup dengan Menuju ke Surga )

Para pengikut Ajaran Hanbali misalnya, berpendapat bahwa tak ada kewajiban bagi seorang pedusi untuk pekerjaan domestik semisal menghasilkan adonan, membuat roti, atau memasak. Pendapat senada juga datang lantaran para pengikut Mazhab Imam Syafi’i seperti yang tertuang dalam teks al-Majmu’ (juz 16, edisi Maktabah Syamilah).

Menurut itu, bila para istri berkhidmat dalam suaminya dalam pekerjaan-pekerjaan di arah itu adalah amal terpuji (al-akhlaq al-mardliyyah), bukan sebagai kewajiban.

Menurut Ustad Ahmad Sarwat, dai dari Rumah Fikih Indonesia menyatakan bahwa ada fenomena yang aneh dan ajaib bagi para perempuan di Indonesia di mana mereka sejak kecil telah terformat menjadi seorang pembantu. Sehingga ketika akad nikah terjadi, seorang perempuan resmi menjadi pembantu famili bagi suaminya.

(Baca juga: Karena Keistimewaannya, Perempuan Dianjurkan Belajar Ilmu Fiqih )

Ustad Ahmad Sarwat juga menjelaskan bahwa justru dengan menolak pemahaman ini juga pegari dari kalangan perempuan. Hal tersebut menyadarkan bahwa ternyata apa dengan kita pikirkan selama ini menerjang gambaran tugas istri merupakan pemahaman lokal budaya yang telah terbentuk selama kurun waktu yang sangat panjang.

Padahal kalau kita merujuk kepada aturan hukum Islam melalui pendapat jumhur ustazah, tugas istri tidaklah seberat tugas para pembantu rumah tangga, sebab IRT (ibu rumah tangga) tidak ART (asisten rumah tangga). Tapi secara tidak sadar selama itu kita menganggap semua ajaran ini berasal dari ajaran Islam.