Wawasan Kebangsaan Dalam Al-Quran (2): Persatuan Bukan Penyatuan

loading…

APAKAH yang dimaksud dengan paham kebangsaan? Sungguh banyak pendapat yang berbeda satu dengan yang lain. Demikian pula dengan pertanyaan yang muncul disertai jawaban yang beragam.

Baca juga: Wawasan Kebangsaan Dalam Al-Quran (1): Apakah Sya’b, Qaum, atau Ummah?

Misalnya:
Apakah mutlak adanya kebangsaan, kesamaan asal keturunan, atau bahasa?
Apakah yang dimaksud dengan keturunan dan bahasa?
Apakah kebangsaan merupakan persamaan ras, emosi, sejarah, dan cita-cita meraih masa depan?

Unsur-unsur apakah yang mendukung terciptanya kebangsaan?

Dan masih ada sekian banyak pertanyaan lain. Sehingga mungkin benar pula pendapat yang menyatakan bahwa paham kebangsaan adalah sesuatu yang bersifat abstrak, tidak dapat disentuh; bagaikan listrik, hanya diketahui gejala dan bukti keberadaannya, namun bukan unsur-unsurnya.

Pertanyaan yang antara lain ingin dimunculkan adalah “Apakah unsur-unsur tersebut dapat diterima, didukung, atau bahkan inklusif di dalam ajaran Al-Quran ? Dapatkah Al-Quran menerima wadah yang menghimpun keseluruhan unsur tersebut tanpa mempertimbangkan kesatuan agama?

Berikut ini Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran menjelaskan beberapa konsep yang mendasari paham kebangsaan.

Baca juga: Tokoh Nasional dan Agama Diminta Ikut Perkuat Wawasan Kebangsaan

Kesatuan/Persatuan
Tidak dapat disangkal bahwa Al-Quran memerintahkan persatuan dan kesatuan. Sebagaimana secara jelas pula Kitab suci ini menyatakan bahwa “Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu” (QS Al-Anbiya’ [2l]: 92, dan Al-Mu’minun [23]: 52).

Pertanyaan yang dapat saja muncul berkaitan dengan ayat ini adalah:

1) Apakah ayat ini dan semacamnya mengharuskan penyatuan seluruh umat Islam dalam satu wadah kenegaraan?

2) Kalau tidak, apakah dibenarkan adanya persatuan/kesatuan yang diikat oleh unsur-unsur yang disebutkan di atas, yakni persamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarah?

Quraish mengatakan yang harus dipahami pertama kali adalah pengertian dan penggunaan Al-Quran terhadap kata ummat. “Kata ini terulang 51 kali dalam Al-Quran, dengan makna yang berbeda-beda,” tuturnya.

Baca juga: Berpahala dan Menyehatkan, Dokter Sarankan Pasien Maag Perbanyak Dzikir dan Baca Al-Quran

Ar-Raghib Al-Isfahani –pakar bahasa yang menyusun kamus Al-Quran Al-Mufradat fi Ghanb Al-Quran– menjelaskan bahwa ummat adalah “kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, baik persamaan agama, waktu, atau tempat, baik pengelompokan itu secara terpaksa maupun atas kehendak sendiri.”

Memang, tidak hanya manusia yang berkelompok dinamakan umat, bahkan binatang pun demikian.

Dan tiadalah binatang-binatang melata yang ada yang di bumi, tiada juga burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, kecuali umat-umat seperti kamu … (QS Al-An’am [6]: 38).

Jumlah anggota suatu umat tidak dijelaskan oleh Al-Quran. Ada yang berpendapat minimal empat puluh atau 100 orang. Tetapi, sekali lagi Al-Quran pun menggunakan kata umat bahkan untuk seseorang yang memiliki sekian banyak keistimewaan atau jasa, yang biasanya hanya dimiliki oleh banyak orang. Nabi Ibrahim as misalnya disebut sebagai umat oleh Al-Quran surat An-Nahl (16): 20 karena alasan itu.

Sesungguhnya Ibrahim adalah umat (tokoh yang dapat dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah, hanif dan tidak pernah termasuk orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS An-Nahl [16]: 120).